
Chanelnusantara.com – Karimun | Tidak semua keputusan besar lahir di ruang rapat yang dipenuhi presentasi dan agenda formal. Banyak gagasan terbaik justru muncul dari percakapan sederhana, dibalik secangkir kopi, ketika para pemimpin saling mendengarkan dengan hati yang terbuka.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Itulah yang tergambar dalam pertemuan hangat antara Dr. Vandarones Purba, S.T., S.H., M.H., M.M., C.Med., Pembina Pemuda Katolik Komda Kepulauan Riau, bersama Halri Simarmata, S.Kom., Gr., Sekretaris Pemuda Katolik Komda Kepulauan Riau.
Dalam suasana santai namun penuh makna, keduanya menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal memberi instruksi, tetapi membangun relasi yang melahirkan kepercayaan.
Dalam teori kepemimpinan modern, pendekatan ini dikenal sebagai Relational Leadership Theory. Teori ini menjelaskan bahwa organisasi yang kuat tidak hanya dibangun oleh struktur, melainkan oleh kualitas hubungan antarpemimpinnya.
Semakin tinggi tingkat komunikasi, rasa saling percaya, dan keterbukaan, semakin cepat organisasi mengambil keputusan dan semakin solid tim dalam menjalankan visi bersama.
Konsep ini juga diperkuat oleh Adaptive Leadership yang diperkenalkan Ronald Heifetz. Seorang pemimpin tidak cukup hanya memimpin dari balik meja kerja. Ia harus hadir di tengah anggotanya, mendengar langsung aspirasi, memahami tantangan, dan membangun solusi melalui dialog yang alami.
Pertemuan-pertemuan informal menjadi ruang yang efektif untuk menyelesaikan persoalan yang sering kali sulit diungkapkan dalam forum resmi.
Budaya inilah yang patut terus dibangun di tubuh Pemuda Katolik Komda Kepulauan Riau. Sebab organisasi yang besar bukan sekadar organisasi yang sering mengadakan rapat, tetapi organisasi yang mampu menjaga komunikasi, persaudaraan, dan kepercayaan di setiap kesempatan.
Ketika pembina dan pengurus mampu duduk bersama tanpa sekat, berdiskusi tanpa jarak, dan saling menguatkan tanpa formalitas yang berlebihan, maka arah organisasi akan semakin jelas dan semangat kader akan terus menyala.
Seperti yang ditegaskan dalam Amsal 27:17, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” Pertemuan sederhana hari ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan yang efektif lahir dari kebersamaan, bukan hanya dari kewenangan.
Sebab dibalik secangkir kopi dan senyum persaudaraan, sering kali tersusun strategi besar yang akan membawa organisasi melangkah lebih jauh, lebih kuat, dan semakin berdampak bagi Gereja, masyarakat, serta bangsa. | NS.




