
Chanelnusantara.com – Batam | Tokoh Masyarakat Kecamatan Sagulung, Zainal Arifin, angkat bicara terkait maraknya penggunaan media sosial, khususnya TikTok, untuk menyampaikan dugaan pelanggaran hukum tanpa melalui proses verifikasi yang memadai.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Menurutnya, kritik terhadap pemerintah maupun penggunaan anggaran negara adalah hak setiap warga negara yang dijamin dalam negara demokrasi. Namun, hak tersebut tidak boleh berubah menjadi penghakiman sepihak di ruang digital.
“TikTok bukan ruang sidang. Media sosial bukan pengadilan. Jangan karena merasa punya banyak pengikut lalu dengan mudah menetapkan seseorang seolah-olah sudah bersalah di hadapan publik,” tegas Zainal Arifin
Zainal menilai, fenomena “mengadili lewat konten” justru berbahaya karena dapat membentuk opini publik sebelum fakta diuji dan sebelum lembaga yang berwenang bekerja.
“Kalau memang ada dugaan pelanggaran, tempuh jalur yang benar. Laporkan ke aparat penegak hukum, buka datanya, tunjukkan dokumennya. Jangan hanya bermodal asumsi lalu diviralkan. Itu bukan kontrol sosial, tetapi bisa berubah menjadi penghakiman digital,” ujarnya.
Zainal mengatakan, kritik yang tidak disertai verifikasi berpotensi merusak nama baik pihak lain sekaligus menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
“Hari ini orang terlalu mudah menekan tombol ‘unggah’, tetapi lupa bahwa setiap ucapan memiliki konsekuensi. Jangan sampai demi mengejar viralitas, akurasi dan tanggung jawab justru dikorbankan,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa masyarakat berhak mendapatkan informasi yang benar, utuh, dan berimbang, bukan narasi yang dibangun berdasarkan dugaan sepihak.
“Kalau memang ada temuan, buktikan. Kalau ada pelanggaran, laporkan. Tapi jangan membentuk opini seolah-olah sudah ada putusan bersalah. Negara ini punya mekanisme hukum, punya aparat, punya aturan. Hormati proses itu,” tegasnya.
Menurut Jainal, penggunaan istilah-istilah yang sensasional tanpa dasar yang kuat justru dapat memicu kemarahan masyarakat yang merasa dirugikan oleh narasi tersebut.
“Jangan membakar emosi publik dengan bahasa-bahasa yang belum tentu sesuai fakta lapangan. Kita ini bangsa yang menjunjung adat dan etika. Menyampaikan kritik itu perlu, tetapi adab dan tanggung jawab juga harus dikedepankan,” ucapnya.
Ia berharap para aktivis, tokoh masyarakat, maupun pengguna media sosial lebih bijak dalam menggunakan ruang digital.
“Jangan jadikan TikTok sebagai panggung untuk mencari perhatian dengan mengorbankan kebenaran. Kalau ingin membela kepentingan rakyat, lakukan dengan cara yang bermartabat, berbasis data, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Zainal.
“Jangan sampai masyarakat dijadikan penonton dari kegaduhan yang sebenarnya belum tentu benar,” pungkasnya. | PJS.



