Chanelnusantara.com – Batam | Pembangunan Gedung Perpustakaan Tanjung Uncang yang bersumber dari dana Corporate Social Responsibility PT Wasco Engineering Indonesia menarik perhatian masyarakat.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Sorotan bukan pada progres bangunannya, melainkan material timbunan untuk pematangan lahan seluas sekitar 1.500 meter persegi yang kini dipersiapkan sebagai lokasi fasilitas pendidikan tersebut.
Pantauan langsung di lokasi pada Selasa, 9 Juni 2026, area lahan sudah dipenuhi timbunan tanah dalam jumlah besar. Plang proyek menyebut kegiatan itu untuk pembangunan Gedung Perpustakaan Tanjung Uncang dengan sumber dana CSR PT Wasco Engineering Indonesia.
Yang menjadi sorotan warga, ditemukannya material timbunan bercampur potongan logam dan material menyerupai scrap. Bahkan sejumlah warga terlihat menggali untuk mencari potongan logam yang masih memiliki nilai ekonomis.
Temuan itu memunculkan pertanyaan soal asal-usul material yang digunakan untuk pematangan lahan.
“Kalau hasil pemotongan lahan, misalnya dari bukit di kawasan perusahaan, tapi kok banyak besinya. Sudah dua minggu lebih masyarakat cari scrap di sana,” ujar seorang warga di lokasi.
Jejak Aktivitas PT Wasco Kembali Disorot
Nama PT Wasco Engineering Indonesia bukan kali pertama jadi perhatian publik terkait pemindahan material di Tanjung Uncang.
Sejak 2025, sejumlah pemberitaan menyorot aktivitas dredging atau pendalaman alur laut, dumping material hasil pengerukan, hingga pemindahan material di beberapa titik yang dikaitkan dengan aktivitas perusahaan.
Memasuki 2026, kegiatan cut and fill di kawasan PT Wasco kembali disorot. Sebelumnya pihak perusahaan menyatakan aktivitas itu telah mengantongi izin resmi sesuai ketentuan.
Dalam pemberitaan sebelumnya, material hasil cut and fill disebut dimanfaatkan untuk membantu pematangan lahan pembangunan Gedung Perpustakaan Tanjung Uncang sebagai bagian program CSR perusahaan.
Pemko Batam: Lahan untuk Sarana Pendidikan
Terkait status lahan yang sebelumnya dikenal sebagai lapangan sepak bola, awak media mengonfirmasi ke Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Batam, Rudi Panjaitan.
“Peruntukan lahan tersebut akan dijadikan sarana pendidikan dan pendukungnya,” ujar Rudi melalui pesan WhatsApp.
Keterangan itu menegaskan lokasi tersebut dipersiapkan Pemko Batam untuk mendukung pembangunan fasilitas pendidikan, termasuk Gedung Perpustakaan Tanjung Uncang.
Keluhan Debu dan Lumpur
Selain temuan scrap, warga mengeluhkan dampak kendaraan pengangkut material. Saat cuaca panas, debu beterbangan dan mengganggu pengguna jalan serta warga sekitar.
Saat hujan, jalan menuju lokasi menjadi berlumpur akibat kendaraan keluar-masuk area penimbunan. Kondisi itu dikeluhkan karena mengganggu kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan.
PT Wasco Arahkan Konfirmasi ke Legal
Untuk klarifikasi, awak media menghubungi Damang Salomo selaku SPV Sementasi PT Wasco Engineering Indonesia. Damang mengarahkan agar informasi perizinan dikonfirmasi ke pihak legal perusahaan melalui Ibu Ziphora.
“Izin kita diurus oleh legal PT Wasco,” tulis Damang menjawab konfirmasi wartawan.
Menindaklanjuti arahan itu, awak media menghubungi pihak legal PT Wasco untuk meminta klarifikasi terkait status lokasi penimbunan, dokumen perizinan, asal-usul material hasil cut and fill, serta dampak lingkungan yang dikeluhkan warga.
Awak media juga menanyakan apakah lokasi penimbunan sudah memiliki persetujuan instansi terkait dan apakah material sudah melalui pengawasan sesuai ketentuan lingkungan hidup.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak legal PT Wasco belum memberikan tanggapan resmi atas pertanyaan tersebut.
Menunggu Penjelasan Resmi
Pembangunan perpustakaan sebagai fasilitas pendidikan tentu langkah positif yang patut diapresiasi. Namun masyarakat berharap ada keterbukaan informasi terkait asal-usul material pematangan lahan.
Hingga saat ini pertanyaan soal material timbunan, pengawasan lingkungan, dan mekanisme pemanfaatan material hasil cut and fill masih menunggu penjelasan resmi pihak terkait.
Perlu ditegaskan, hingga berita ini diterbitkan belum ada hasil uji laboratorium maupun pernyataan resmi instansi berwenang yang menyatakan material timbunan mengandung limbah B3.
Namun keberadaan scrap dan potongan logam di lokasi menjadi dasar munculnya pertanyaan publik yang masih menunggu jawaban.
Atas pemberitaan ini, redaksi membuka ruang kepada pihak yang disebutkan, berhak menyampaikan hak jawab dan hak koreksi, dan redaksi terbuka memuat tanggapan tersebut dalam pemberitaan selanjutnya. | Red.

