
Oleh: Nimrod Siahaan
Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah Kepulauan Riau
Tulisan Romo Pascalis yang berjudul “Pelecehan Seksual Berkedok Sama-sama Mau” bukan sekadar refleksi, melainkan sebuah alarm keras yang mengetuk hati nurani kita.
Sebagai Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah Kepulauan Riau, saya merasa terdorong untuk menegaskan bahwa perjuangan melawan kekerasan seksual tidak bisa hanya diserahkan pada individu atau kelompok tertentu, ini adalah panggilan bersama kita semua, khususnya orang muda Katolik.
Kita tidak bisa terus-terusan dibungkam oleh narasi manipulatif seperti, “Tapi kan mereka sama-sama mau.” Ungkapan itu adalah bentuk pembiaran terhadap praktik kekerasan yang seringkali bersembunyi dibalik relasi yang tampak “suka sama suka”.
Padahal, dalam kenyataannya, banyak korban yang merasa tidak punya pilihan lain selain berkata “iya”, karena takut, karena ancaman, karena tekanan relasi kuasa, atau karena ketidaktahuan mereka terhadap hak-haknya sendiri.
Lebih menyedihkan lagi, kekerasan seksual ini seringkali berkait erat dengan praktik perdagangan manusia yang dikemas dalam janji-janji manis: kerja di luar negeri dengan gaji besar, cinta dari seseorang yang menjanjikan kehidupan lebih baik, atau sekadar keinginan untuk keluar dari kemiskinan.
Modus-modus ini marak terjadi di wilayah perbatasan seperti Kepri, yang menjadi jalur rawan bagi tindak perdagangan orang, terutama perempuan dan anak.
Pemuda Katolik Kepri menyuarakan dengan tegas, negara tidak boleh tinggal diam. Harus ada kebijakan dan pengawasan serius terhadap proses perekrutan tenaga kerja, terutama bagi perempuan muda.
Harus ada edukasi menyeluruh yang menjangkau hingga ke desa-desa, menyadarkan masyarakat akan bahaya relasi tidak setara dan jebakan cinta semu yang berujung pada eksploitasi.
Kepada para pemimpin bangsa, kami mendesak agar upaya pemberantasan perdagangan manusia tidak hanya sebatas wacana atau seremoni tahunan. Diperlukan kebijakan yang berpihak pada korban, perlindungan hukum yang kuat, serta sistem pemulihan yang manusiawi.
Kepada sesama orang muda, mari kita jangan hanya menjadi penonton. Bangun keberanian untuk bersuara, menjadi bagian dari gerakan yang melindungi martabat manusia, dan jangan biarkan kekerasan dibungkus dengan kedok cinta.
Dukung suara profetis para imam seperti Romo Pascalis yang berani menyuarakan kebenaran. Gereja dan masyarakat harus bersatu memerangi segala bentuk kekerasan, eksploitasi, dan perbudakan modern. Karena setiap manusia berhak untuk dicintai, bukan dimanipulasi.
Mari bersuara. Mari bertindak. Mari lindungi sesama. | Red.




