
Ketika Iman Turun ke Jalan Sejarah Bangsa
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Chanelnusantara.com – Batam |
Ada banyak forum yang berbicara tentang iman. Ada banyak pidato yang mengatasnamakan agama. Tetapi tidak banyak perjumpaan lintas iman yang berani turun langsung ke luka kemanusiaan.
Hari ini, kita menyaksikan sebuah peristiwa penting bagi kehidupan publik bangsa Indonesia;
Dialog Kebangsaan “Interreligius Dialogue and Action” sebuah ruang dimana iman tidak berhenti pada kata, tetapi menjelma menjadi tindakan nyata membela martabat manusia.
Sebagai Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah Kepulauan Riau, saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Komisi HAK Kevikepan Kepri Keuskupan Pangkalpinang dan Stella Maris Batam, serta seluruh tokoh lintas iman yang dengan rendah hati memilih berjalan bersama, bukan berdiri sendiri-sendiri.
Human trafficking bukan sekadar kejahatan hukum. Ia adalah luka peradaban. Ia tumbuh subur ketika negara lengah, ketika masyarakat diam, dan ketika agama hanya sibuk mengurusi dirinya sendiri.
Karena itu, dialog ini menjadi sangat bermakna. Di sini, Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha tidak saling mempertanyakan perbedaan teologis, melainkan menyatukan nurani untuk satu suara;
1. Manusia tidak boleh diperdagangkan.
2. Martabat manusia tidak bisa ditawar.
Kehadiran para pemimpin iman dari Pastor Scalabrinian yang setiap hari bergumul dengan migran dan korban trafficking, ulama NU, pendeta Protestan, tokoh Hindu, dan tokoh Buddha adalah pesan kuat bagi bangsa ini “Bahwa agama adalah bagian dari solusi, bukan penonton penderitaan”.
Lebih dalam lagi, tanggal pelaksanaan kegiatan ini 8 Februari, peringatan Santa Josephine Bakhita, pelindung korban perdagangan manusia memberi makna spiritual yang mendalam.
Ini adalah seruan profetis “Bahwa iman sejati selalu berpihak pada mereka yang paling rentan”.
Bagi Pemuda Katolik, dialog ini adalah contoh konkret bagaimana iman menopang kehidupan berbangsa dan bernegara.
Inilah wajah Indonesia yang kita rindukan “Indonesia yang berbeda, tetapi tidak terpecah”, “Indonesia yang beriman, tetapi tidak eksklusif”, “Indonesia yang berani melawan kejahatan kemanusiaan secara kolektif”.
Saya mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya kaum muda lintas iman, untuk tidak berhenti pada kekaguman, tetapi melanjutkan dialog ini dalam aksi nyata, edukasi, advokasi, dan keberpihakan pada korban.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya apa agamamu,
tetapi akan bertanya “Di mana posisimu ketika martabat manusia diinjak-injak”.
Human dignity is non-negotiable.
Iman yang hidup adalah iman yang membebaskan. | Red.
Oleh: Nimrod Siahaan – Ketua Pemuda Katolik Komda Kepulauan Riau.




