
Chanel Nusantara.com – Penyengat | Rombongan peserta Rakernas III PJS dijamu Pemprov Kepri untuk mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah di Pulau Penyengat, Taman Para Penulis.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Kunjungan ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam dan mengeksplorasi suku, budaya, serta tempat bersejarah di Pulau Penyengat, untuk diperkenalkan kepada publik.
Tiba di Pulau Penyengat, salah satu tempat bersejarah yang menyambut rombongan adalah sebuah masjid berwarna kuning yang berdiri megah, dengan 13 kubah dan 4 menara.
Masjid megah itu adalah Masjid Raya Sultan Riau, atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai “Masjid Putih Telur”. Awalnya, masjid ini hanya berupa sebuah surau kayu sederhana yang dibangun pada tahun 1803 Masehi.
Bukan sekadar tempat ibadah, masjid ini juga merupakan satu-satunya peninggalan Kesultanan Riau-Lingga yang masih utuh hingga kini. Ia menjadi simbol peradaban Melayu-Islam yang pernah menjadi pusat ilmu, bahasa, dan pemerintahan di kawasan ini.
Pulau Penyengat sendiri merupakan mas kawin pernikahan Sultan Mahmud Shah III dengan Engku Putri Raja Hamidah, putri Raja Haji Fisabilillah, pada tahun 1805.
Pada 7 Rabiul Awal 1218 Hijriah atau 1803 Masehi, Sultan Mahmud membangun masjid kayu di atas bukit kecil tak jauh dari pantai, sebagai tempat ibadah untuk kediaman istrinya.
Saat itu masjid hanya berlantai batu bata, berdinding kayu, dan memiliki menara setinggi sekitar 6 meter.
Seiring bertambahnya jemaah, masjid kayu itu tak lagi mampu menampung. Maka pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdurrahman (1831-1844), masjid ini diperbesar dan dibangun ulang menjadi masjid yang kita lihat berdiri sekarang.
Titik awal pembangunan masjid besar ini terjadi pada momen yang sangat bersejarah, yakni pada 1 Syawal 1248 Hijriah atau 1832 Masehi, tepat di Hari Raya Idul Fitri.
Pada hari itu, Raja Abdurrahman menyerukan kepada seluruh rakyatnya untuk beramal dan bergotong-royong di jalan Allah membangun masjid yang kokoh.
Seruan itu disambut luar biasa. Orang-orang datang dari seluruh pelosok teluk, ceruk, dan pulau di kawasan Riau-Lingga. Mereka membawa bahan bangunan, makanan, dan tenaga, serta bekerja siang malam secara bergiliran.
Hasilnya luar biasa. Pondasi masjid setinggi sekitar 3 meter atau 7 hasta, berhasil diselesaikan hanya dalam waktu 3 minggu.
Kisah yang paling mengharukan hingga masjid ini menjadi legenda adalah pada saat pembangunan berlangsung, sumbangan makanan yang paling banyak datang adalah telur.
Para pekerja sampai bosan makan telur setiap hari, hingga akhirnya mereka hanya memakan kuning telurnya saja.
Putih telur yang melimpah dan terbuang sia-sia itu kemudian mendapat ide dari para pekerja asal India. Di negeri mereka, putih telur biasa dijadikan perekat bangunan.
Arsitek masjid yang disebut-sebut berasal dari India itu pun memerintahkan agar putih telur dicampur dengan pasir, kapur, dan tanah liat sebagai perekat batu dan beton.
Ternyata campuran itu menjadi perekat yang sangat kuat. Hingga kini, setelah hampir 200 tahun berdiri, masjid ini masih kokoh. Saat dicek dengan alat scan bangunan, masjid ini ternyata tidak menggunakan besi beton sebagai pondasinya.
Selain itu, arsitektur masjid ini memadukan gaya Timur Tengah, India, dan Melayu. Masjid ini disebut sebagai masjid pertama di Indonesia yang memakai kubah.
Makna dibalik bangunannya sarat filosofi Islam, antara lain; 13 kubah + 4 menara = 17, yang melambangkan jumlah rakaat salat fardu dalam sehari semalam.
7 pintu, melambangkan jumlah ayat dalam Surah Al-Fatihah dan 6 jendela yang melambangkan Rukun Iman.
Sementara warna bangunan masjid juga memiliki arti yang mendalam, Warna kuning melambangkan Kerajaan Melayu dan Warna hijau melambangkan Islam.
Di halaman masjid juga terdapat dua bangunan kembar yang disebut Rumah Sotoh, dulu digunakan sebagai tempat belajar ilmu agama, musyawarah ulama, dan tempat istirahat musafir, di kiri-kanan masjid juga terdapat dua kolam wudu yang disebut dua kulah.
Di dalam masjid ini juga tersimpan harta karun sejarah yang tak ternilai. Ada Mushaf Al-Qur’an tulisan tangan Abdurrahman Stambul, putra asli Pulau Penyengat yang diutus Sultan untuk belajar ke Mesir/Turki pada tahun 1867, dan selesai ditulis dengan kaligrafi gaya Istanbul.
Ada juga Mushaf Al-Qur’an tulisan tangan Abdullah Al-Bugisi tahun 1752 M, yang tersimpan bersama sekitar 300 kitab kuno koleksi perpustakaan Kutubkhanah Marhum Ahmadi yang didirikan Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi.
Di dekat mimbar kayu jati yang didatangkan khusus dari Jepara, juga tersimpan sepiring pasir dari Tanah Suci Makkah yang dibawa oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua, bangsawan Riau pertama yang menunaikan ibadah haji pada tahun 1820.
Kini, Masjid Raya Sultan Riau telah ditetapkan pemerintah sebagai “Benda Cagar Budaya”, bersama 16 situs sejarah lainnya di Pulau Penyengat.
Pulau Penyengat juga dikenal sebagai tempat lahirnya bahasa Indonesia, lewat karya Raja Ali Haji, Gurindam Dua Belas, dan makam Pahlawan Nasional Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji yang berada tak jauh dari masjid.
Bagi peziarah dan wisatawan, berkunjung ke masjid ini bukan sekadar melihat bangunan tua.
Seperti kata pemandu wisata setempat, mengunjungi Penyengat adalah belajar bahwa budaya Melayu itu harus dikenali, dipelajari, dan dijaga agar tetap hidup untuk generasi berikutnya. | Red.




